sketsa masjid agung demak abad 15
'Mulya Guna Panca Waktu'
Suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu

Masjid Agung Demak – Kesultanan Demak merupakan negara muslim pertama di Indonesia dan menjadi salah satu negara bagian terkuat pada awal tahun 1500-an.

Demak memainkan peran penting dalam ekspansi Islam di Indonesia, sebagai tiang berdirinya kerajaan Islam pertama.

Selama bertahun-tahun, masjid ini merupakan masjid terpenting di pulau Jawa dan terbesar di Indonesia. 

Dulu, Masjid ini bahkan digunakan untuk berkumpulnya para wali songo, sampai akhirnya kesultanan Demak pun memindahkan ibukotanya ke daerah Pajang.

Berikut akan saya kupas tuntas Mulai dari awal mula sejarah masjid Agung Demak, arsitektur masjid, awal mula penyebaran islam, hingga teori yang bermunculan dengan kerajaan Demak.

Table of Contents

masjid agung demak tempo dulu

Sumber:  Wikipedia

Sejarah Pembangunan Masjid Agung Demak

Pada abad ke-14 di daerah Jawa, dikenalnya sebutan 9 nama penyiar Islam atau yang disebut Wali Songo. 

Wali Songo inilah yang melakukan dakwah di berbagai wilayah Jawa maupun sekitarnya. Salah satunya adalah Demak.

Masjid Agung Demak didirikan pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, bersama Wali Songo, dan masyarakat Demak dengan tujuan agar seluruh orang Jawa dapat memeluk agama Islam.

Raden Patah adalah seorang keturunan Majapahit (diduga putra Brawijaya V, raja Majapahit terakhir) dan merupakan raja pertama dari kesultanan Demak. 

Oleh karena itu, desain arsitektur yang digunakan masjid ini memiliki ciri khas dengan gaya Jawa Kuno dari kerajaan Majapahit.

Masjid ini terletak di alun-alun dan pusat keramaian Demak dengan lokasi di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Didalam buku Simon (2004) yang berjudul Peran Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa, dijelaskan bahwa pembangunan masjid Agung Demak memiliki kaitan dengan diangkatnya  Raden Patah sebagai Adipati Demak tahun 1462 M, pengangkatannya sebagai Sultan Demak Bintara pada tahun 1478 M, dan jatuhnya Majapahit ke tangan Prabu Girindrawardhana tahun 1512 M.

Tidak ada bukti pasti mengenai kapan dibentuknya Masjid Agung Demak. Hal ini dikarenakan kurangnya bukti tulisan mengenai sejarahnya. 

Salah satu contoh penjelasan tahun didirikan masjid ini yaitu penjelasan gambar bulus yang terdapat di mihrab (tempat salat imam), dengan landasan prasasti bergambar bulus (hewan sejenis kura-kura) “sariro sunyi kiblating” yang artinya tahun 1401 Saka atau setara dengan 1479 M.

Susunan kata atau tulisan ini disebut Candrasengkala (Candra & Sekngkala), Candra yang artinya pernyataan, serta sengkala yang artinya tahun. 

Dalam penjelasan buku Hasanu Simon tahun 2004, Konon, pembangunan masjid ini dilakukan hanya dengan satu malam bersama Wali songo. Pada esok harinya, masjid ini pun sudah dapat digunakan untuk menunaikan shalat Jum’at.

Berbeda sekali dengan Masjid Nabawi yang terletak di Mekkah, walaupun di bangun pada zaman Rasulullah, penjelasan mengenai sejarah serta keadaan bangunan sewaktu didirikan pun  dijelaskan lebih detail.

Sumber:  EastJava

Keunikan Desain Arsitektur Masjid.

Telah Disebutkan Sebelumnya,

Masjid Agung Demak dibangun dengan ciri Khas Jawa Kuno dari Kerajaan Majapahit.  Hal ini merupakan bentuk akulturasi budaya dari agama Hindu (Mayoritas agama pada zaman ini Majapahit).

Dengan memberikan kesan sederhana, masjid ini tetap memunculkan kesan kemegahan, keanggunan, keindahan, serta memberikan gambaran yang karismatik.

Pada tempat tersebut, terdapat  bangunan induk (masjid), bangunan serambi, serta  makam para pejuang muslim Demak, seperti Sultan Raden Patah, Sultan Trenggono, dan Pati unus.

Menariknya, 

Bangunan masjid ini memiliki filosofis sendiri yang berkaitan erat dengan ajaran Islam. Berikut akan Saya jelaskan mulai dari atap, tiang, hingga pintu yang digunakan pada masjid ini. 

BACA LEBIH LANJUT

Yang menarik dari Masjid Agung Demak adalah sistem struktur empat soko gurunya. Empat tiang besar setinggi 19,54 meter dan berdiametar 1,45 meter ini dipercayai merupakan ‘sumbangan’ empat wali penyebar Islam di Jawa.

Empat saka guru atau tiang kokoh penyangga atap mengambil gaya bangunan Majapahit. Ke empat saka guru ini berdiri di ruang utama masjid setinggi 19,54 meter dengan diameter sebesar 1,45 meter  merupakan hasil sumbangan dari empat wali songo, yaitu:

  • Arah Tenggara: Sunan Ampel
  • Arah Barat daya: Sunan Gunung Jati
  • Arah Barat Laut: Sunan Bonan
  • Arah Timur laut : Sunan Kalijaga
Saka ini dibangun dengan susunan serpihan kayu dengan cara dipasak, kemudian diikat, sehingga menjadi batang tiang besar dengan menggunakan getah damar sebagai perekatnya.

Atap dari bangunan utama terbentuk dari limas yang berundak tiga atau atap 3 susun. Ketiga atap ini menggambarkan akidah islam, yaitu Iman, Islam, dan Ikhsan. 

Menarik bukan? kalau masih diberi kesempatan oleh Allah SWT, mampir ke masjid ini ya. 

Serambi Masjid Agung Demak ini sering juga disebut Serambi Majapahit. Sebab,  serambi ini memiliki delapan tiang sebagai penyangga dengan menggunakan gaya bangunan Majapahit. 

Serambi sendiri dimaknakan untuk fungsi sosial (Hablumminannas), tempat melakukan sebuah pertemuan dan aktivitas sosial bagi sesama kaum muslimin.

Serambi masjid Agung Demak memiliki luas sebesar 465 m² dengan menggunakan lantai teraso sebagai pelapis lantai (campuran pecahan marmer, semen, tegel, dan pasir).

 

Pintu Masjid Agung Demak dikenal dengan sebutan Lawang Bledheg. Hal ini dikarenakan pintu ini dianggap mampu menahan petir. 

Pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo  terdapat Candrasengkala (penjelasannya ada diatas) yang berbunyi ‘Nogo Mulat Saliro Wani’, dengan artian tahun 1388 Saka atau sekitar 1466 M.

Dikutip dari Dinas Parawisata Kabupaten Demak, Pintu Petir ini memiliki kisah bahwa gambar beledeg yang ditaruh pada alun-alun baru kepalanya saja. 

Tiba-tiba ada seorang wanita yang menyiram air hingga terjadi letusan besar, Bledeg dan wanita tersebut hilang seketika.

Diduga bahwa wanita tersebut adalah jelmaan dari bledeg wanita untuk menyelematkan bledeg yang ditangkap Ki Ageng Selo.

Kebenaran dari permasalahan ini memang hanya Allah yang tahu. Namun, hal ini bisa diambil pelajaran untuk dekat dengan Allah SWT, selalu mengontrol emosi, dan tidak berbuat kerusakan di atas bumi.

masjid agung demak

Sumber:  u/karlukoyre (reddit)

Awal Penyebaran Islam di Daerah Jawa

Keberadaan 9 tokoh penyebar agama Islam atau yang disebut Walisongo merupakan tokoh penting  dalam penyebaran ajaran agama Islam di berbagai wilayah di Pulau Jawa dan menyebar ke seluruh Nusantara.

Strategi dakwah yang dilakukan pun mengikuti kebudayaan dan kesenian Indonesia yang pada saat itu di bawah kerajaan Majapahit dan beragama hindu. Pernah dengar ‘Tombo Ati?’

Yap,

lagu yang dinyanyikan oleh Opick ini sebenarnya merupakan karya asli dari Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim). Ada juga lir-ilir, sluku bathok, serta lagu reliji lainnya dari karya sunan Kalijaga.

Selain itu, banyak juga instrumen alat musik yang merupakan budaya Hindu diubah dengan nuansa Islam.

Musik yang dinyanyikan pun biasanya diiringi dengan rebana dan bonang (alat musik bagian dari gamelan yang berasal dari budaya Hindu).

Peran yang dilakukan para pendakwah ini adalah dengan memberikan edukasi, menyebarkan islam melalui berdagang, serta mendirikan pesantren.

Strategi dakwah yang dilakukan pun bahkan menghasilkan Indonesia yang saat ini mayoritas penduduknya adalah agama Islam.

Contohnya, seperti di daerah Banten dengan Masjid Agung Banten, di Kalimantan dengan Masjid Sultan Suriansyah, hingga mencapai Maluku.

Tak hanya itu,

Masjid Agung Demak merupakan salah satu tempat berkumpulnya walisongo dalam melakukan rapat pertemuan. Oleh karena itu, Demak sendiri mengambil peran penting sebagai pusat awal penyebaran agama Islam.

Teori Seputar Letak Keraton Kesultanan dengan Masjid Agung Demak.

Sampai sejauh ini, belum diketahui pasti dimana letak Kesultanan Demak.

Menurut Aswi Zunan, dilansir dalam situs Quora, terdapat beberapa teori letak posisi keraton dari kesultanan demak.

Pertama, Kesultanan Demak dan pemerintahannya berada di dalam Masjid Agung Demak itu sendiri. Hal ini disimpulkan bahwa Raden Patah pindah ke Demak semata-mata untuk kepentingan islam. 

Hal ini merupakan contoh masa pemerintahan pada zaman Nabi Muhammad Saw beserta para sahabatnya.

Kedua, sesuai dengan budaya Jawa Kuno, sebuah masjid (bangunan suci) harus diletakkan di dekat alun-alun. Letak Keraton Demak diperkirakan berada di sekitar (sebelah timur) alun-alun. 

Ketiga, Letak Keraton Kesultanan Demak berseberangan dengan Masjid Agung, menyebrangi sungai, dan ditandai dengan dua pohon pinang.

Nah, 

Inilah seputar mengenai Masjid Agung Demak, mulai dari sejarah, desain pembangunan, serta teori seputar keraton kesultanan Demak.

Yuk,

Bagi teman-teman yang ingin berbagi fakta maupun teori seputar Masjid Agung Demak, bisa dikomentari artikel ini di bagian bawah.

Kontribusi Anda Sangat Berarti Buat Kami.

Leave a Reply

Hubungi Kami
Butuh Bantuan?
Assalamualaikum Wr Wb.

Ada yang bisa dibantu?