masjid raya baiturrahman

Gambar Masjid Raya Baiturrahman (Sumber : Wikimedia)

Masjid Raya Baiturrahman sudah didirikan semenjak tahun 1022 H/1612 M oleh Sultan Iskandar Muda, merupakan benteng pertahanan utama umat muslim Aceh melawan kolonial Belanda 

Masjid Raya Baiturrahman – sebuah masjid yang terletak di pusat Kota Banda Aceh yang dapat menampung hingga 13.000 jamaah. Masjid ini merupakan saksi bisu dari berbagai peristiwa di kota Aceh.

Lokasi Masjid ini terletak di Jln. Muhammad Jam No.1 Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Banyak sekali para pengunjung yang turut langsung menyaksikan Landmark Banda Aceh sejak era Kesultanan Aceh.  

Masjid ini, didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 M, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa sudah didirikan sejak tahun 1292 M. 

Berbagai peristiwa pun berlangsung, seperti kegunaan masjid pada masa kolonial Belanda, dan selamat dari Tsunami Aceh pada tahun 2004.

Bahkan, Masjid ini sempat mengalami penolakan oleh kaum muslim Aceh. 

penasaran bukan? simak penjelasan saya selanjutnya.

Daftar Isi

masjid baiturrahman dulu

Sumber : tropenmuseum.nl

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman : Masa Kejayaan Kesultanan Aceh

Armelia Dafrina dari risetnya yang berjudul Transformasi Tipologi pada Kubah Masjid Raya Baiturrahman sebagai Bangunan Bersejarah di Aceh (2017) menyebutkan bahwa masjid ini sudah dibangun pada tahun 1292 M oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah I. 

Hal ini ditandakan dengan adanya Kesultanan Samudera Pasai sekitar abad 13 dengan sistem pemerintahan kerajaan Islam. Selain itu, masjid ini sempat terjadi perubahan nama menjadi Baiturrahim (Maha Penyayang).

Kemudian,

Masjid Baiturrahman dibangun kembali oleh sultan Iskandar Muda (1603 – 1636 M)  dengan menggunakan gaya arsitektur khas Aceh dengan menggunakan atap jerami yang berlapis-lapis.

Kesultanan Aceh pada saat ini, mencapai puncak kejayaannya dimana daerah kekuasaan yang semakin besar, serta reputasi sebagai pusat perdagangan dan pembelajaran Islam di mata dunia.

Kesultanan Aceh pun menjalin berbagai hubungan baik dengan beberapa negara seperti Inggris, Perancis, Belanda, dan Turki Usmani.

 

Benteng Pertahanan Utama Kesultanan Aceh

Pada masa Kolonialisme Belanda, Masyarakat Aceh pun menggunakan Masjid Baiturrahman sebagai benteng pertahanan utama melawan pasukan Jenderal J.H.R Kohler dengan pasukannya sekitar 3000 orang.

Penyerangan pun terus berlangsung, hingga pada tahun 1873 M, hingga tertembak Jenderal Kohler di depan masjid Raya Baiturrahman (tempat tertembaknya diabadikan dengan monumen kecil di bawah pohon ketapang, dekat pintu Utara).

Belanda yang mengalami kerepotan, akhirnya berusaha membakar habis masjid dengan  menembarkan suar ke atap jerami masjid. Kejadian ini merupakan kebakaran pertama masjid Raya Baiturrahman.

Tak putus semangat, 

masjid pun dibangun kembali  dengan bangunan berbentuk persegi yang terbuat dari kayu. Atap bangunan sendiri berbentuk piramida bertingkat tiga dan dikelilingi oleh beberapa benteng.

Ada yang mengatakan, masjid ini mirip dengan Masjid Jami di Indra Puri, Aceh.

Peperangan pun masjid berlanjut hingga Masjid Baiturrahman mengalami kebakaran kedua kalinya pada tahun 1877.

Belanda, berupaya untuk meredam perlawanan dengan membangun kembali masjid pada tahun 1879. 

Desain masjid pun menggunakan arsitektur Mughal, seperti bangunan Taj Mahal di India dengan bahan-bahan dari pemerintahan Belanda.

Awalnya, Rakyat Aceh menolak untuk beribadah di masjid tersebut. Namun, masjid ini kembali digunakan oleh masyarakat Aceh bahkan menjadi kebanggaannya kembali.

Setelah beberapa kali renovasi, di tahun 1992, Masjid Raya Baiturrahman diperluas lagi dengan menggunakan tujuh kubah masjid dan lima menara dengan biaya pengeluaran sebesar 1.2 Miliar Rupiah. 

infografis masjid baiturrahman

Kondisi Masjid Agung Baiturrahman Pasca Tsunami

masjid baiturrahman pasca tsunami

Sumber : seuramoe Aceh

Tepatnya 26 Desember 2004, Gelombang Tsunami menyapu seluruh isi ibu kota Aceh dan sekitarnya. lebih dari 200 Jiwa menjadi korban dalam kejadian tersebut.

Di tengah kejadian tersebut,

Masjid Raya Baiturrahman masih berdiri kokoh di sekeliling lumpur dan puing-puing bangunan yang hancur. 

Ketika tsunami Aceh berlangsung, Masjid ini dikatakan seperti tak tersentuh air, hanya mengenai hingga batas anak tangga halaman masjid.

Hal ini merupakan bentuk kebesaran Allah SWT bahwa yang Maha Kuasa  berkehendak atas segala sesuatu. Banyak sekali warga Aceh, bahkan di seluruh dunia, terbuka matanya atas kebesaran Allah SWT.


Keunikan Bangunan Masjid Agung Baiturrahman

Banyak sekali warga daerah Provinsi Aceh, maupun seluruh Indonesia, turut serta dalam melakukan Wisata Religi ke Masjid Raya Baiturrahman ini.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh berdiri dengan luas tanah sebesar 31.000 meter². Luas bangunannya sekitar 4.000 meter² persegi. 

Masjid ini dapat menampung hingga 13.000 jamaah. Didalamnya, terdapat air pancuran yang mirip dengan gaya masjid timur tengah.

Bangunan pada masjid menggunakan gaya arsitektur Mughal, yaitu serapan dari timur tengah dengan pola struktur dan karakter yang seragam, memiliki kubah bulat besar, menara ramping di sudut, balai besar, serta hiasannya.

Selain itu,

Keunikan lain pada masjid Baiturrahman dilihat dari 3 pintu besar yang identik. Di luar permukaan pintu, terdapat hiasan yang menunjukkan keindahan.

Dibagian tengah halaman, terdapat menara dengan ketinggian hingga 53 meter. Kemudian di setiap halaman masjid, terdapat 4 menara yang serupa dengan ciri khas Mughal.

Bagi Anda yang ingin melakukan wisata ke masjid ini, mohon memahami peraturan Masjid Agung Baiturrahman, yaitu:

  • Dilarang Merokok
  • Dilarang memakai celana pendek, berpakaian yang sopan
  • Dilarang duduk berduaan yang bukan muhrimnya
  • Perempuan tidak menggunakan pakaian yang ketat.
  • Bagi perempuan non-muslim, harap menggunakan jubah, akan ada arahan dari petugas.

Itulah seputar peristiwa mengenai Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang menggunakan gaya daerah timur ini, merupakan kebanggaan masyarakat Aceh dengan berbagai kisah-kisah di baliknya.

Leave a Reply

Hubungi Kami
Butuh Bantuan?
Assalamualaikum Wr Wb.

Ada yang bisa dibantu?